Posted by: bambangforlife | April 10, 2009

universitas kebijakan

Menjadi Dewasa..

child2

Semua orang bisa mengatakan dirinya telah dewasa. Semua orang bisa merasa dirinya telah menjadi orang dewasa. Tapi tidak semua orang benar-benar menjadi dewasa, sampai ia melewati sebuah jenjang pendidikan kehidupan di Universitas Kebijakan.

Apa saja yang didapat di Universitas Kebijakan?

Balance view

Jika kita memandang sebuah persoalan hanya dari cara pandang kita, maka kita belum dapat disebut bijak. Seringkali, kita dikelabui oleh pandangan kita sendiri, dan kita selalu bertahan dengan pandangan itu karena kita merasa diri benar. Kita tidak pernah mau tahu bagaimana orang lain memandang persoalan itu. Kita hanya melihat dari sisi kita. Orang lain, peduli amat! Cara pandang seperti ini akan menjadikan berat sebelah. Tak ada keseimbangan. Tak ada pencerahan.

Cobalah melihat dari sisi orang lain yang bepersoalan dengan kita. Bagaimana mereka melihat persoalan itu? Bagaimana pandangannya? Kenapa dia berpandangan seperti itu? Mengetahui pandangan dan cara pandang orang lain yang berpersoalan dengan kita akan membuat kita dapat memahaminya. Namun, memahami, bukan berarti menolerir. Kita memiliki pandangan dan prinsip sendiri yang patut kita pertahankan, tetapi dengan memahami cara pandang orang lain, maka prinsip dan pandangan itu tidak akan membutakan segala mata yang kita miliki. Karena, apapun bentuknya, buta hanya akan membuat kita jadi sembrono dan tak terkontrol. Dan buta pun, bisa membuat kita tersesat.

Kita musti berempati dengan mencoba berpikir seperti apa yang dipikirkan orang yang bermasalah dengan kita. Dari situ kita akhirnya bisa memahami, mengapa dia bersikap tidak seperti apa yang kita pikirkan dan harapkan. Seringkali, ketidakseimbangan pandangan, hanya berpandangan menurut pandangan kita dan tidak mau tahu pandangan orang (yang berpersoalan dengan kita) terhadap persoalan yang sedang kita hadapi, membuat kita terjebak pada ego yang tak terkontrol (uncontrolled ego), dan, tentu saja, kita tidak akan pernah menjadi dewasa.

Rekonstruksi ego

Kenapa kita tidak mau melihat, dan tidak mau tahu cara pandang orang lain? Itu karena kita dibekali sebuah ego yang besar. Lalu, salahkah cara pandang kita? Tidak, tidak sepenuhnya salah. Namun, tidak menutup kemungkinan pula untuk salah. Karena itu, dengan melakukan penyeimbangan pandangan, maka pandangan kita konstruksi ulang, kita susun ulang dengan sebuah cara pandang baru yang lebih cerah dan menyegarkan.

Pada cerita dua orang bersaudara, di mana sang kakak begitu sayang kepada adiknya sehingga mau melakukan apa saja demi keselamatan dan kesuksesan sang adik. Tapi sang adik mengartikannya sebagai sebuah pengekangan, sang kakak akhirnya menyusun ulang pandangannya. Bisa jadi, Sang Kakak mulai mengurangi pengawasan dan bimbingannya kepada Sang Adik yang selama ini dirasakan sebagai sebuah pengekangan. Sang Kakak mulai memberikan sedikit kepercayaan, tetapi tidak melepas 100%. Dia tetap ‘peduli’, tetapi tidak lagi ‘terlampau peduli’. Begitu pula Sang Adik seharusnya dapat memahami maksud dan tujuan serta kasih sayang Sang Kakak yang begitu besar kepadanya. Sang Adik akan selalu menjaga diri dan berusaha untuk sukses seperti yang diharapkan oleh Sang Kakak, dan tentu saja, untuk menjaga kepercayaan, Sang Adik akan selalu ‘melaporkan’ atau bicara kepada Sang Kakak jika terjadi sesuatu pada dirinya atau mendapat kesulitan yang dia sendiri tak dapat menanganinya. Karena itu, diperlukan komunikasi yang baik. Komunikasi yang dilandasi saling pemahaman dan keinginan untuk memahami apa yang dipikirkan satu sama lain.

Masing-masing tetap mempertahankan prinsip dan ego. Tetapi prinsip dan ego yang telah diselimuti rasa pemahaman yang baik dan seimbang satu sama lain. Sehingga, masing-masing dapat menjalankan prinsip dan egonya dengan rasa nyaman, tanpa merugikan.

Dengan memahami pandangan orang lain terhadap masalah, apakah membuat kita melepaskan pandangan sendiri, atau, parah-parahnya, menjadi tidak punya prinsip? Tidak. Kita tetap punya prinsip. Kita tetap punya pandangan sendiri terhadap masalah tersebut, tetapi pandangan kita, ego kita terhadap masalah tersebut kita konstruksi ulang, kita susun ulang dengan ego yang lebih terkontrol. Setiap manusia tak mungkin lepas dari ego. Namun ego yang tak terkontrol membuat manusia terjebak pada bencana diri yang tak diharapkan. Karena itu, rekonstruksi ego adalah jalan terbaik. Setelah memahami pandangan orang lain, ditambah wawasan-wawasan lain, ego kita muncul dalam ‘baju’ baru yang lebih menenangkan. Pandangan dan prinsip kita tetap terjaga, namun pandangan dan prinsip orang lain pun tetap dihargai. Inilah ego yang terkontrol yang merupakan hasil rekonstruksi ego kita. Dan inilah pintu masuk menuju kedewasaan.

Bird’s eye

Dalam melihat persoalan, kita melihatnya seperti seekor burung di udara yang melihat benda di bumi. Kita keluar dari diri kita dan melihat persoalan seperti orang ketiga yang bersikap adil dan independens terhadap kita dan orang yang berpersoalan dengan kita. Dengan demikian, kita akan lebih obyektif dalam memahami persoalan. Berpikir dengan meminjam mata burung seperti ini, tidak hanya membuat kita dapat menyelesaikan persoalan secara jernih, tapi membuat jiwa kita pun tumbuh menjadi matang dan dewasa. Kita lepas dari faktor subyektif yang akan membuat jiwa dan pandangan kita ‘kuper’ atau kurang wawasan.

Melihat bola

Satu lagi bagaimana menjadi bijak. Lihatlah persoalan seperti melihat bola. Kita berada di sisi mana saja, tak ada yang sama. Bergeser semili pun, apa yang kita lihat pasti berbeda. Jadi, kita tidak akan pernah berpikir seperti apa yang dipikirkan orang lain selama kita tidak pernah mau bergeser atau meminjam tempat orang tersebut untuk melihat persoalan dari sisi dia. Dengan demikian, kita akan selalu menghargai dan memahami siapapun yang berbeda pandangan dengan kita, dan kita selalu berhati-hati bahkan cenderung menghindari untuk men-judge orang lain dengan semena-mena. Mungkin sering kita mendengar kalimat “coba kamu jadi dia”, atau “coba kamu jadi saya”. Hal itu menunjukkan bahwa setiap orang akan memiliki pandangan yang berbeda terhadap suatu persoalan, sepanjang dia berada di tempat atau dalam konteks yang berbeda. Misalnya, paham tentang Tuhan. Setiap agama memiliki pemahaman yang berbeda terhadap apa dan bagaimana itu Tuhan. Karena mereka ‘melihat’-nya dari sudut yang berbeda, meskipun obyek yang dipandang itu sama. Karena itu, kita tidak bisa men-judge kitalah yang paling benar, karena kebenaran itu menjadi relatif, tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Begitu pula dengan persoalan kita sehari-hari. Percayalah, dengan sering melihat persoalan dari sisi yang berbeda-beda, wawasan kita bertambah, dan kita pun akan menjadi lebih bijak dan dewasa dalam menghadapi persoalan tersebut, bahkan dalam menghadapi hidup. Kita tidak mudah menghakimi orang lain, menghakimi diri sendiri, menghakimi keadaan, menghakimi persoalan, bahkan menghakimi Tuhan. Karena jiwa kita bebas, mata kita selalu terbuka lebar, pandangan kita luas, terbiasa memandang dari berbagai macam sisi, sehingga hidup pun jadi lapang adanya.

Tidakkah kita ingin hidup nyaman dan lapang? (bsw)

Advertisements

Categories